1. Sebuah Kisah yang Hidup dari Mulut ke Mulut
Di antara banyaknya cerita rakyat dan kisah tersembunyi tentang perjalanan hidup Soekarno, ada satu legenda yang terus hidup di masyarakat Jambi, khususnya wilayah Serampas. Kisah ini menyebutkan bahwa Soekarno, pada suatu masa, mengalami kondisi kesehatan yang sangat menurun ketika berada di Jakarta. Kondisinya disebut tidak membaik meski sudah dirawat oleh banyak dokter.
Dalam keadaan darurat itulah muncul saran dari orang dekat Soekarno:
“Panggil Pesirah Badu Lambun dari Serampas. Hanya dia yang bisa menyembuhkan.”
Nama Badu Lambun bukanlah nama asing bagi masyarakat Serampas. Ia dikenal sebagai pesirah sekaligus penyembuh yang dihormati—seorang tokoh adat yang sarat dengan ilmu herbal, spiritual, serta pengetahuan pengobatan tradisional warisan leluhur.
2. Kondisi Soekarno yang Kian Memburuk di Jakarta
Pada versi cerita yang berkembang, Soekarno berada di Istana atau sebuah kediaman resmi di Jakarta ketika ia mulai jatuh sakit. Kelelahan ekstrem, tekanan mental besar, dan aktivitas politik yang padat membuat tubuhnya melemah.
Mereka yang berada di sekelilingnya menggambarkan bahwa:
- Tubuhnya panas seperti demam tinggi,
- Namun kulitnya dingin,
- Nafasnya berat,
- Dan energi Soekarno seolah terkuras habis.
Beberapa tabib modern telah dipanggil, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Melihat kondisi semakin genting, pengawal dan penasihat Soekarno setuju untuk mengambil langkah yang tidak biasa:
Mendatangkan penyembuh dari pedalaman Serampas, Jambi.
3. Perintah Khusus: Menjemput Badu Lambun dari Serampas
Ketika kabar tentang saran itu sampai kepada tim pengawal Soekarno, keputusan diambil dengan cepat. Pasukan khusus ditugaskan untuk pergi ke Serampas, daerah yang saat itu masih sangat terpencil, tanpa akses jalan modern.
Menurut kisah yang beredar:
- Rombongan tentara berangkat menggunakan kapal dan kendaraan darat,
- Lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki,
- Melewati hutan lebat, sungai-sungai kecil, serta lereng bukit yang curam.
Tujuannya satu:
Menjemput pesirah Badu Lambun, sang dukun Legenda Serampas.
Rakyat Serampas masih menceritakan bahwa kedatangan pasukan itu mengejutkan warga desa, karena jarang sekali ada tentara yang masuk begitu jauh ke wilayah adat tersebut.
4. Badu Lambun: Penyembuh yang Dihormati
Badu Lambun dikenal bukan sekadar dukun biasa. Ia adalah pesirah pemimpin adat yang memiliki posisi terhormat di masyarakat Serampas.
Ia terkenal karena:
- Pengetahuan dalam meracik herbal hutan,
- Kemampuan membaca penyakit melalui sentuhan,
- Dan ritual tradisional Serampas yang diwariskan turun-temurun.
Ketika tentara menjelaskan bahwa seorang tokoh penting di Jakarta membutuhkan bantuannya, Badu Lambun disebut tidak langsung menjawab. Ia hanya meminta waktu sejenak untuk melakukan ritual kecil, seolah “menanyakan” kepada alam dan leluhur apakah ia boleh pergi.
Setelah beberapa saat, ia berkata:
“Jika alam mengizinkan, maka saya akan berangkat.”
5. Perjalanan Badu Lambun ke Jakarta
Badu Lambun kemudian dibawa oleh rombongan pasukan keluar dari Serampas. Warga mengantar kepergiannya dengan campuran antara bangga dan khawatir.
Dalam perjalanan keluar:
- Ia membawa kantong rotan berisi herbal,
- Sebuah tongkat kayu,
- Dan beberapa benda adat yang sering digunakan dalam ritual penyembuhan.
Perjalanan menuju Jakarta memakan waktu lama, dan diceritakan bahwa tentara memperlakukannya dengan sangat hormat. Badu Lambun sendiri tenang sepanjang perjalanan, sesekali berbicara tentang alam, tumbuhan, dan manusia.
6. Tiba di Jakarta: Badu Lambun Bertemu Soekarno
Ketika akhirnya tiba di Jakarta, Badu Lambun langsung dibawa ke ruangan di mana Soekarno beristirahat. Para pengawal menyingkir, memberi ruang kepada pesirah Serampas untuk melakukan tugasnya.
Diceritakan bahwa sesaat melihat kondisi Soekarno, Badu Lambun langsung berkata:
“Sakitnya tidak hanya di tubuh, tetapi di dalam jiwanya.”
Ini adalah kalimat khas dari pengetahuan pengobatan tradisional: melihat manusia bukan hanya dari fisiknya, tetapi juga dari energi dan beban batin yang dibawanya.
7. Ritual Penyembuhan: Perpaduan Herbal dan Doa Adat
Proses penyembuhan dilakukan secara tertutup, hanya ditemani satu atau dua orang yang paling dipercaya.
Badu Lambun melakukan beberapa ritual:
1. Pembacaan Nafas dan Nadi
Ia memegang pergelangan tangan Soekarno cukup lama, seolah “mendengar” sesuatu melalui denyut nadi.
2. Ramuan Rebusan Hutan Serampas
Ia meracik daun, akar, dan kulit kayu yang dibawanya.
Ramuan itu:
- Sebagian diminumkan,
- Sebagian dioleskan di beberapa bagian tubuh,
- Sebagian lagi dibakar hingga menjadi asap herbal.
Aroma ramuan itu diceritakan sangat kuat pedas, pahit, dan menusuk.
3. Ritual Pembersihan Energi
Dengan seikat daun kering, Badu Lambun mengipaskan asap ke seluruh tubuh Soekarno.
Ritual ini untuk mengusir “angin buruk” yang diyakini menumpuk di dalam tubuh.
Beberapa orang yang menyaksikan mengatakan bahwa setelah ritual ini, tubuh Soekarno mulai berkeringat sangat deras.
8. Perubahan Kondisi Soekarno
Tidak lama setelah ritual, kondisi Soekarno membaik secara signifikan.
- Nafasnya lebih teratur,
- Tubuhnya terasa lebih hangat,
- Wajahnya tidak lagi sepucat sebelumnya.
Keesokan harinya, ia sudah bisa duduk dan berbicara, meski pelan.
Badu Lambun hanya berkata:
“Ia hanya terlalu lelah. Bebannya besar. Sekarang ia boleh beristirahat.”
9. Pesan Badu Lambun Sebelum Pulang
Ketika Badu Lambun hendak kembali ke Jambi, Soekarno memberikan penghargaan setinggi-tingginya. Namun, seperti yang diceritakan masyarakat Serampas, Pesirah itu berkata:
“Saya hanya membawa jamu dan doa. Yang menyembuhkan adalah kehendak Yang Maha Kuasa.”
Ia menolak imbalan besar dan hanya membawa pulang sedikit tanda terima kasih.
Bagi masyarakat Serampas, inilah bukti kebijaksanaan pemimpin adat mereka.
10. Penutup: Kisah yang Tetap Hidup dalam Ingatan Rakyat
Apakah kisah ini benar-benar terjadi atau tidak, tidak ada arsip resmi yang mencatatnya secara rinci. Namun masyarakat Serampas menuturkannya dengan sangat yakin, turun-temurun dari generasi ke generasi.
Kisah ini menjadi simbol:
- Kedekatan pemimpin dengan rakyat kecil,
- Kekuatan pengobatan tradisional Nusantara,
- Dan betapa luasnya jaring sejarah Indonesia yang tersembunyi.
Legenda ini terus hidup bukan karena ingin membesarkan satu pihakmelainkan karena ia menunjukkan bahwa dalam titik terendah sekalipun, seorang pemimpin tetap manusia yang membutuhkan pertolongan sesama.
